Istilah Seperti Perang Hibrida Dan Senjata Untuk Gambarkan Situasi di Perbatasan Belarus-Polandia

najica.com – Ketika konflik geopolitik di perbatasan Belarus-Polandia terus membara, orang-orang tak terima dijadikan sebagai “senjata” dalam perang hibrida. Istilah-istilah seperti “perang hibrida” dan “senjata” telah digunakan untuk menggambarkan situasi yang memanas di perbatasan Belarus-Polandia dan para migran serta pengungsi yang terlantar di hutan.

Akhir pekan ini, tubuh seorang pemuda Suriah ditemukan di hutan dekat desa perbatasan Polandia Wolka Terechowska. Penyebab kematiannya tidak segera diketahui, menurut pejabat Polandia. Melansir Al Jazeera pada Minggu (14/11/2021), di perbatasan Belarus-Polandia sekarang menjadi zona terlarang bagi wartawan dan pekerja sosial, tidak ada seorang pun diizinkan masuk kecuali penduduk setempat.

Sehingga, apa yang terjadi di dalam zona terlarang tidak mungkin diverifikasi sepenuhnya karena tentara dan polisi mengusir wartawan di setiap pos pemeriksaan. Ribuan migran dan pengungsi berkemah di perbatasan Belarus ketika Polandia, anggota Uni Eropa, telah menolak mereka masuk karena dianggap “senjata” dari pemerintah Alexander Lukashenko.

Kochar, seorang pria Irak-Kurdi berusia 26 tahun yang namanya disamarkan, adalah salah satu dari mereka yang terjebak di titik penyeberangan perbatasan Kuznica Polandia. Ia segelintir orang yang berhasil menyusup dari Belarus ke Polandia yang dijaga ketat. Kochar pergi dari Irak karena takut dianiaya setelah bekerja untuk sebuah partai Kurdi di Iran.

Ia membaca di media sosial bahwa dia bisa terbang ke ibu kota Belarus, Minsk, dan pergi ke Eropa dengan cara itu.
“Anda tahu Iran dapat melakukan apa saja di Irak, mungkin suatu hari mereka akan menangkap saya,”katanya. Ada dua pilihan sekarang dalam pikirannya, “Mati di sini atau mati di negara saya.

Banyak dari kita memiliki situasi yang sama.”Lulusan matematika dari Universitas Sulaymaniyah di Irak, Kochar berharap bahwa dia mungkin memiliki prospek yang lebih baik di Uni Eropa. Namun, dia tahu sekarang ia telah melakukan perjalanan berbahaya di tengah konflik geopolitik, untuk menemukan kehidupan yang lebih baik.

“Kadang-kadang Anda akan melakukan apa saja untuk menghindari kematian,”katanya, bahkan ketika dia menyadari bahwa dia telah terperangkap dalam tarik-menarik geopolitik antara Uni Eropa dan Belarus. “Bukan kemanusiaan yang dilakukan Eropa dan Belarusia dengan kami,”katanya.

“Saya tahu Belarus menggunakan kami (sebagai senjata), tetapi apa yang harus kami lakukan?”tuntutnya.

” Kami tidak menyukainya,” katanya, menolak digambarkan sebagai “senjata”Belarus.

” Kami di sini untuk hidup, bukan untuk berkelahi,”katanya, menunjukkan jumlah anak kecil di sekitarnya di kamp darurat. Situasi di sisi perbatasannya sangat menyedihkan. Dia mengirim foto anak-anak kecil dengan pesan minta bantuan tergambar dalam raut wajah mereka.

Tidak ada cukup kayu untuk membuat api, tidak ada cukup makanan untuk orang-orang, dan banyak yang sakit karena suhu yang dingin, kata Kochar. “Kami hanya ingin hal buruk ini selesai,” tambah Kochar. “Itu hal yang buruk, menggunakan orang dan melupakan kemanusiaan,”tandasnya tentang perang hibrida yang menggunakan para migran dan pengungsi sebagai “senjata”.

“Saya ingin Eropa dan seluruh dunia tahu bahwa kami dalam bahaya. Kami akan segera mati di sini. Kami akan membeku,”ucapnya. “Belarus dan Polandia menggunakan kami seperti dalam perang. Kami menginginkan kehidupan yang baik. Kami adalah manusia,”ujarnya. “Saya tidak ingin mati di sini, saya memiliki banyak ambisi, saya pikir Eropa penuh dengan kemanusiaan, tetapi saya tidak melihat apa pun sampai sekarang. Tolong, tolong bantu kami,”pintanya.

Konflik Geopolitik Yang Tak Manusiawi

Maurice Stierl, dari jaringan aktivis Alarm Phone, mengatakan negara-negara Eropa belum menemukan cara lain untuk menangani masalah migrasi. Ia melihat bahwa Uni Eropa mengganggap gelombang migran dan pengungsi di perbatasan Belarus-Polandia adalah “masalah politik raksasa”.

Manurut Stierl, “Eropa memiliki sarana untuk menampung beberapa ribu orang dari hutan Belarusia.”Stierl mengatakan tindakan pemerintah Belarus yang menjadikan para migran dan pengungsi sebagai senjata “jelas mengejutkan”. Namun jika berpaku pada pandangan mereka adalah “senjata” politik, maka mengesampingkan fakta bahwa “mereka adalah individu yang memiliki banyak alasan untuk berpindah”.

Mereka “bukan hanya semacam pion yang digerakkan di papan catur oleh Lukashenko dan para pemimpin otoriter lainnya”. “Kita selalu terjebak dalam biner ini di mana mereka hanya dapat dipahami sebagai ancaman militer atau sebagai korban mutlak. Dan dalam banyak hal, kedua narasi tersebut sangat tidak manusiawi,” ungkapnya.

Leave a Reply