Karena Covid-19, Festival Telanjang di Jepang Jadi Tak Meriah

Ini Festival Paling Jantan di Jepang

Najica.com — Pada 500 tahun yang lalu sebuah festival unik muncul di Jepang. Diberi nama Hadaka Matsuri. Kini festival itu lebih populer dikenal sebagai naked festival atau festival telanjang.

Setiap tahunnya, ribuan penduduk pria di Jepang memadati prefektur Okayama di bagian selatan Pulau Honshu untuk menghadiri festival telanjang tersebut. Namun, sayangnya festival yang melibatkan banyak orang itu terpaksa tidak dapat dijumpai tahun ini.

Dilansir CNN, dikenal juga sebagai Saidaiji Eyo, festival Hadaka Matsuri umumnya dilaksanakan pada Sabtu ketiga di bulan Februari di Kuil Saidaiji Kannonin. Tahun ini, pandemi COVID-19 memaksa penyelenggara mengurangi banyak hal secara signifikan.

Peserta biasanya dihadiri oleh seluruh penduduk di kota Jepang, bahkan sebagian dari mereka datang dari luar negeri. Namun tradisi Hadaka Matsuri tahun ini yang digelar pada 20 Februari lalu hanya dihadiri oleh 100 orang terpilih saja.

100 pria beruntung itu merupakan mereka yang telah menangkap shingi dalam beberapa tahun terakhir. Berbeda dengan tahun sebelumnya, festival Hadaka Matsuri tahun ini digelar secara tertutup tanpa penonton.
Dalam festival ini, mereka biasanya berkumpul untuk memperebutkan ranting dan tongkat yang dilemparkan para pendeta. Tapi tahun ini berbeda, para peserta terpilih itu akan berkumpul di Kuil Saidaiji Kannonin untuk berdoa bagi kesuburan, berakhirnya pandemi, dan perdamaian dunia.

Menurut laporan CNN, pihak penyelenggara tidak membatalkan secara menyeluruh festival tersebut untuk menghormati tradisi yang telah berjalan selama 500 tahun itu. Ketua Saijaiji, Eyo Minoru Omori, mengatakan bahwa pihaknya telah mendapat persetujuan oleh para pendeta dan anggota komite untuk tetap menggelar acara tersebut.

“Dalam diskusi dengan imam kepala dan anggota komite, kami telah mencapai kesimpulan bahwa kami perlu mendoakan Eyo sekarang,” kata Eyo Minoru Omori.
Sementara itu, Hadaka Matsuri digelar untuk merayakan berkah dari panen yang melimpah, kemakmuran, dan kesuburan. Di waktu normal, acara dimulai pada sore hari dan diikuti anak laki-laki guna menumbuhkan minat generasi muda.

Prosesi biasanya acara akan dimulai sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Festival akan dimulai dengan penyiraman air dingin. Air dingin disiramkan pada para peserta yang berlari mengelilingi kuil. Sambil menahan rasa dingin, mereka harus tetap berlari.

Prosesi awal tersebut memiliki arti membersihkan diri dari dosa-dosa duniawi. Sehingga mereka nantinya dianggap layak dan bersih dari dosa ketika hendak memasuki kompleks kuil. Prosesi awal pembersihan dosa berlangsung selama kurang lebih dua jam.

Setelah penyucian, para peserta diperbolehkan masuk ke dalam kompleks kuil. Di dalam kompleks kuil yang terbatas itu, para pria akan menunggu matahari terbenam sambil berdesak-desakan.

Jelang pukul 22.00 waktu setempat, tahapan terseru Festival Telanjang baru akan dimulai. Pendeta-pendeta kuil akan mulai melemparkan ratusan ranting dan dua tongkat yang dijuluki sebagai Shingi ke peserta.

Kedua tongkat Shingi dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Masyarakat Jepang meyakini bahwa orang yang bisa mendapatkan tongkat itu akan menerima keberuntungan sepanjang tahun. Tongkat Shingi dianggap memiliki kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ranting. Karena tongkat itu bisa dibawa pulang dan dijadikan jimat.

Leave a Reply