Ribuan Pengungsi dari Myanmar Kabur Ke Arah Perbatasan yang diKuasai Pemberontak Bersenjata

Korban Tewas di Myanmar Mencapai 38 Orang, PBB: Hari Paling Berdarah Sejak  Kudeta

Najica.com – Gelombang pengungsi pasca kudeta militer di kota-kota Myanmar, diperkirakan bisa mencapai 7.000 pengungsi pada akhir April.

Hal itu disampaikan kelompok pemberontak etnis Rabu (24/3/2021), yang mengklaim ratusan sudah berada di daerah yang dikuasai kelompok pemberontak saat ini.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaannya dalam kudeta 1 Februari.

Operasi itu memicu pemberontakan massal yang mendorong pasukan keamanan melakukan tindakan keras dan mematikan terhadap pengunjuk rasa.

Gerakan anti-kudeta telah mengumpulkan dukungan luas di seluruh negeri, termasuk di antara beberapa kelompok pemberontak bersenjata di negara itu.

Kelompok milisi Myanmar selama beberapa dekade telah memerangi militer Myanmar untuk mendapatkan lebih banyak otonomi. Diperkirakan sepertiga wilayah Myanmar, sebagian besar di wilayah perbatasannya, dikuasai oleh segudang kelompok pemberontak yang memiliki milisi sendiri.

Karen National Union (KNU) salah satu kelompok bersenjata terbesar di negara itu. Menurut seorang pejabat kelompok itu, ratusan orang melarikan diri ke wilayahnya di tenggara negara bagian Karen, dekat perbatasan Thailand sejak kudeta.

“Kami pikir itu bisa meningkat menjadi antara 6.000 dan 7.000 orang pada akhir April,” kata Sekretaris Jenderal KNU, Saw Tah Doh Moo kepada AFP.

Dia menambahkan bahwa sejauh ini orang yang melarikan diri dari kerusuhan anti-kudeta adalah aktivis, pengunjuk rasa dan anggota parlemen dari partai Liga Nasional untuk Demokrasi Suu Kyi.

“Mereka yang sekarang berlindung lebih banyak di level pemimpin, tapi jika mereka (militer) terus menekan bisa jadi populasi yang lebih luas,” katanya. KNU telah menyaksikan bentrokan baru dengan militer di wilayahnya sejak kudeta.

Selain orang-orang yang mengungsi dari kerusuhan di kota, wilayah KNU saat ini memiliki 5.000 orang Karen mengungsi dari pertempuran lokal yang telah berlangsung sejak Desember.

“Ini posisi kami, dari sudut pandang kemanusiaan kami, bahwa kami harus memberikan perlindungan kepada orang-orang yang berada di daerah kami,” katanya.

Pihak berwenang di provinsi tetangga, Thailand, Tak, mengatakan sedang mempersiapkan potensi masuknya pengungsi dari Myanmar.

Pemerintah Bangkok menyatakan dapat mendukung antara 30.000 hingga 50.000 orang.

Sekitar 90.000 pengungsi dari Myanmar telah hidup dalam ketidakpastian di sisi perbatasan Thailand selama bertahun-tahun. Mereka setelah melarikan diri dari perang saudara selama beberapa dekade antara militer dan kelompok etnis bersenjata.

Tapi Saw Tah Doh Moo mengatakan dia pikir eksodus lebih lanjut ke Thailand tidak mungkin. “Kondisi saat ini berbeda karena rakyat lebih berkomitmen untuk (memerangi) kudeta,” katanya.

Leave a Reply