Usai Divaksin AstraZeneca Seorang Pemuda 22 Tahun di DKI Jakarta Meninggal Karena Pembukaan Darah

Pemuda di Jakarta Meninggal Sehari Usai Disuntik Vaksin AstraZeneca |  kumparan.com

Najica.com – Komnas KIPI masih mengusut kasus pemuda 22 tahun, Trio Fauqi Virdaus, yang meninggal dunia sehari setelah disuntik vaksin AstraZeneca di Jakarta.

Komnas KIPI belum bisa menentukan apakah kematian Triad berkaitan dengan penyuntikan vaksin, namun laporan medis menunjukkan Trio mengalami pembekuan darah (embolism).

” Jadi sulit untuk menentukan, ya, mau mengkaitkan dengan katakanlah kematian akibat vaksin AstraZeneca. Kan memang sebetulnya yang dilaporkan embolism.

Embolism kan bisa di otak, paru, perut, dan kaki. Di kaki dan perut biasanya enggak menyebabkan kematian,” kata Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari saat dikonfirmasi, Senin (10/5).

” Biasanya yang menyebabkan kematian di otak dan di paru. Di paru dia enggak ada tanda-tanda sesak. Di otak [gejalanya] kejang, pusing. Namun gejala AstraZeneca juga ada pusing. Kemudian kejang, kata temen-temennya, kata keluarga enggak ada,” imbuh dia.

Hindra menjelaskan, Trio divaksin AstraZeneca pada Rabu (5/5). Usai divaksinasi, ia merasakan gejala Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yakni demam, mual, hingga pusing. Namun, Trio tidak menghubungi nomor penanganan KIPI yang tertera di kertas vaksinasi dan memutuskan pergi ke dokter langganannya.

Dokter tersebut ternyata tidak praktik hari itu, sehingga Triad tak jadi berobat. Hingga siang esok harinya, Kamis (6/5), Triad dinyatakan sudah meninggal dunia saat tiba di RS Astra Nugraha, Jakarta Timur. Berdasarkan laporan, Trio diduga meninggal dunia akibat blood clot atau pembekuan darah.

Sekilas Embolism

Embolism atau pembekuan darah adalah gangguan dalam proses koagulasi alias pembekuan darah. Biasanya, darah akan mulai membeku setelah terjadinya cedera untuk mencegah seseorang mengalami kehilangan darah dalam jumlah besar.

Namun, beberapa kondisi tertentu dapat memengaruhi kemampuan darah untuk membeku dan menggumpal dengan baik, sehingga bisa mengakibatkan perdarahan berat atau berlangsung lama. Mulai dari penyakit hati, defisiensi vitamin K, sampai efek samping obat-obatan tertentu.

Komnas KIPI Melakukan Investigasi

Kasus pembekuan darah akibat penggunaan AstraZeneca sebelumnya sudah beberapa kali terjadi di Eropa. Tetapi, Hindra menekankan belum bisa memastikan apakah Triad meninggal karena divaksin AstraZeneca.

Triad harus diautopsi untuk mengetahui secara cepat dan akurat apakah kematiannya berkaitan dengan penggunaan vaksin AstraZeneca.

Namun hal ini menurutnya sulit dilakukan, sehingga pihaknya akan terus melakukan investigasi untuk mengetahui keterkaitan kematian Triad dengan vaksin AstraZeneca.

” Untuk penyakit lain kita harus tindak lanjuti, kan ada dokter langganannya apa ada riwayat dia sakit jantung, asma, dll, yang dikaitkan dengan kematian almarhum kemarin. Kemudian kita juga lihat dokter UGD akan kita wawancara lagi. Jadi belum bisa dipastikan, sampau saat ini, bukti yang ada belum cukup kuat,” lanjut dia.

Almarhum Tidak Memiliki Riwayat Sakit Berat

Mengenai kondisi dan riwayat penyakit almarhum, kakak Trio yang bernama Viki, menyebut adiknya tidak memiliki riwayat sakit berat. Termasuk tidak pernah terinfeksi COVID-19.

“Setahu saya tidak ya, dia enggak ada riwayat penyakit berat dan ibu saya bilang saat berangkat kerja dalam keadaan sehat.

Hasil pemeriksaan tidak ada riwayat (COVID-19), sehat, orang waktu hari Minggu sebelumnya baru selesai ikut kontes burung,” tutur Viki yang dihubungi terpisah.

“Tapi kerja dia memang sering lembur, overtime karena kan di bagian lapangan,” tambah dia. Triad bekerja sebagai tenaga alih daya (outsourcing) di Pegadaian.

Leave a Reply